Kunjungi Dompet Dhuafa Hong Kong, Dosen IAN Bekasi Bantu Kembangkan Pelatihan Keterampilan untuk PMI

Dompet Dhuafa Hong Kong terus memperluas perannya dalam pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui berbagai program keterampilan, dakwah, dan layanan sosial. Hong Kong dinilai sebagai salah satu tempat yang aman bagi PMI untuk bekerja dan tinggal, sehingga dukungan pembinaan menjadi sangat penting. Dosen Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi, berkesempatan mengunjungi kantor Dompet Dhuafa di Causeway Bay, Hong Kong pada Jum’at (24/4/2026).

Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Hj. Miftahussa’adah Wardi, M.IRKH., bersama Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Iza Ma’rifah, M.Sos., bertemu General Manager Dompet Dhuafa Hong Kong (2024) Fajar Shofari Nugraha, MA.

Doc. Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Ia menyampaikan bahwa jumlah PMI di Hong Kong mencapai sekitar 155.000 orang, yang terdiri dari pekerja domestik (domestic helper) dan sekitar 20.000 pekerja profesional. Sejak tahun 2005, para PMI yang memiliki izin resmi mendapatkan pendampingan intensif, salah satunya melalui program Dompet Dhuafa yang aktif setiap hari. Pendampingan ini tidak hanya ditujukan bagi pekerja migran, tetapi juga menjangkau diaspora Indonesia secara luas.

“Dompet Dhuafa menyediakan shelter gratis bagi PMI dalam berbagai kondisi, seperti yang mengalami pemutusan kontrak, menunggu visa, atau menghadapi masalah hukum. Mereka dapat tinggal tanpa batas waktu dan mendapatkan fasilitas makan gratis. Ini menjadi satu-satunya lembaga yang memberikan pendampingan secara menyeluruh,” ungkapnya. Ia juga menjelaskan bahwa pada hari Ahad, kegiatan dakwah dan sosial berlangsung lebih variatif dengan melibatkan berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan pekerja profesional.

Keterbatasan fasilitas, seperti belum adanya masjid khusus Indonesia di Hong Kong, tidak menghambat aktivitas dakwah. Dompet Dhuafa bersama berbagai organisasi tetap aktif menggelar kegiatan keagamaan, termasuk program di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yang diisi secara profesional dan telah mendapatkan izin resmi serta diaudit oleh pemerintah Hong Kong. Kegiatan juga meluas ke Makau, di mana setiap pekan kedua diadakan program rutin seperti shelter dan tarawih keliling yang mampu menjangkau hingga 5.000 jamaah.

Doc. Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing PMI, Dompet Dhuafa Hong Kong mengembangkan pelatihan keterampilan yang dapat diikuti secara rutin. Program yang ditawarkan meliputi pelatihan jahit, bahasa Inggris, komputer, hingga bahasa Kanton. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi PMI, baik selama bekerja di Hong Kong maupun saat kembali ke tanah air.

Di bidang dakwah, Dompet Dhuafa Hong Kong memanfaatkan media digital untuk menjangkau jamaah lebih luas. Kegiatan dakwah dilakukan melalui streaming dan siaran langsung di Facebook setiap Selasa malam, Jumat malam, dan Sabtu pagi. Format ini memudahkan PMI yang memiliki keterbatasan waktu dan jarak untuk tetap mengikuti kajian keagamaan.

Selain itu, layanan sosial dan kesehatan juga menjadi fokus utama. Dompet Dhuafa Hong Kong menghadirkan Klinik Al-Qur’an sebagai sarana memperdalam bacaan dan pemahaman Al-Qur’an. Layanan kesehatan seperti ruqyah syar’iyyah dan bekam turut disediakan untuk menjaga kebugaran jasmani dan rohani para PMI.

Ketua Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Hj. Miftahussaadah Wardi, M.IRKH., mengungkapkan bahwa kegiatan pengabdian ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang model dakwah berbasis komunitas yang adaptif dan berkelanjutan. “Solidaritas, kedisiplinan, serta semangat belajar para PMI menjadi kekuatan utama. Ini adalah praktik nyata dakwah transnasional yang patut dikaji dan dikembangkan lebih lanjut dalam konteks akademik maupun sosial,” ujarnya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Iza Ma’rifah, M.Sos., menyampaikan pentingnya keberlanjutan program setelah para PMI kembali ke Indonesia. “Nilai-nilai yang mereka peroleh selama di luar negeri diharapkan dapat diimplementasikan di tanah air, seperti etos kerja keras, kemandirian, dan orientasi ibadah yang kuat. Ini sejalan dengan prinsip hijrah sebagai transformasi menuju kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya. Kegiatan pengabdian ini menjadi bagian dari komitmen Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi dalam mengintegrasikan tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam penguatan dakwah global berbasis pemberdayaan masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *