Perkuat Dakwah Diaspora Indonesia di Hong Kong, Dosen IAN Bekasi Laksanakan Pengabdian

Doc. Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Dua dosen Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat secara mandiri di Hong Kong dan Makau. Kegiatan ini berfokus pada penguatan jaringan dakwah dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia (PMI). Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Hj. Miftahussaadah Wardi, M.IRKH., memimpin pelaksanaan PKM bersama Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Iza Ma’rifah, M. Sos., dari tanggal 19-27 April 2026.

Doc. Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Dalam pengabdian tersebut, keduanya melakukan observasi, pendampingan, serta penguatan kelembagaan dakwah berbasis komunitas. Upaya ini dilakukan oleh Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi sebagai bagian dari dakwah international yang berkelanjutan untuk meningkatkan kerja sama di bidang tridharma.

Narasumber utama, KH. Abdul Mohaimin Karim, MA, mengungkapkan bahwa perkembangan dakwah di Hong Kong telah berlangsung sejak awal tahun 2000-an dengan model yang sangat sederhana namun konsisten. “Pada tahun 2002, dakwah dimulai dari halaqah kecil berisi satu hingga dua orang. Namun, seiring waktu, antusiasme meningkat pesat. Hari Minggu yang awalnya menjadi satu-satunya waktu pengajian kini berkembang hingga Senin-Ahad, sehingga tidak ada lagi kekosongan waktu untuk belajar agama,” jelasnya.

Doc. Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Ia menambahkan, saat ini jumlah PMI Indonesia yang aktif mengikuti kegiatan dakwah mencapai puluhan ribu orang, dengan estimasi sekitar 40.000 jamaah yang terlibat dalam berbagai majelis taklim di Hong Kong. Hal ini menjadikan komunitas dakwah Indonesia sebagai salah satu yang terbesar dibandingkan komunitas lainnya. Secara kelembagaan, dakwah di Hong Kong berada di bawah naungan Islamic Union yang berkolaborasi dengan berbagai komunitas. Pada tahun 2009, dibentuklah Persatuan Organisasi Sosial Masyarakat Indonesia di Hong Kong (POSMIH) sebagai wadah besar yang mengoordinasikan berbagai organisasi kecil.

“POSMIH memiliki tiga tujuan utama, yaitu mempererat hubungan antarorganisasi Muslim, membantu organisasi kecil agar berkembang, serta mengoordinasikan kegiatan rutin melalui pertemuan bulanan,” terang KH. Abdul Mohaimin Karim. Hingga tahun 2010, POSMIH telah menaungi sekitar 58 organisasi, sehingga memudahkan pelaksanaan kegiatan besar seperti salat Idulfitri dan Iduladha. Selain itu, terdapat pula Persatuan Dakwah Victoria Park (PDV) yang berdiri sejak 2003 dan menjadi pusat aktivitas dakwah di ruang publik, serta mereka mendapat mendapatkan fasilitas tetap di Masjid Ammar Osman Ramju Sadick Islamic Centre, Wan Chai.

Doc. Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Organisasi lain yang turut berperan antara lain Gabungan Muslim Indonesia (GAMMI), yang memiliki enam cabang majelis taklim dan rutin berkegiatan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), serta Ikatan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) yang berdiri pada 2011 untuk memfasilitasi persiapan ibadah haji dan umrah bagi PMI. Cakupan dakwah juga meluas hingga Makau, meskipun jumlah warga Indonesia di wilayah tersebut relatif kecil. Namun demikian, semangat dakwah tetap terjaga melalui dedikasi para jamaah yang aktif membangun kesadaran keagamaan di tengah keterbatasan.

Lebih lanjut, aktivitas keseharian para PMI tidak hanya berfokus pada pekerjaan domestik, tetapi juga diisi dengan kegiatan keagamaan yang intensif. Setiap hari mereka memperdalam ilmu agama melalui belajar, mengaji, mendengarkan kajian tafsir, praktik salat, pembacaan sholawat, serta berbagai bentuk ibadah lainnya. Rutinitas ini menjadi fondasi spiritual yang memperkuat identitas dan ketahanan diri mereka di perantauan.
Selain penguatan aspek religius, pada hari-hari tertentu para PMI juga secara aktif meningkatkan keterampilan dan kapasitas diri. Berbagai pelatihan diikuti, seperti belajar bahasa Inggris, komputer, menjahit, hingga keterampilan kerajinan tangan (handcraft). Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga menjadi bekal penting ketika mereka kembali ke Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *